Washington D.C. – Fenomena menarik muncul dalam lanskap politik Amerika Serikat: retorika ekonomi yang dilontarkan oleh Donald Trump, baik selama masa kepresidenannya maupun dalam kampanye terkini, menunjukkan kesamaan yang mencolok dengan argumen-argumen yang sering disampaikan oleh Presiden Joe Biden. Kemiripan ini, yang terasa janggal mengingat perbedaan ideologi dan gaya politik mereka yang kontras, bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari strategi politik pragmatis di tengah kegelisahan publik yang meluas terhadap kondisi ekonomi, terutama menjelang pemilihan umum. Sebuah analisis kritis mengungkapkan bagaimana kedua pemimpin ini, meskipun dari spektrum politik yang berbeda, seringkali menggaungkan tema-tema ekonomi yang serupa untuk memenangkan hati pemilih.
Dengan mendekatnya pemilihan paruh waktu dan jajak pendapat yang secara konsisten menunjukkan kegelisahan mendalam di kalangan masyarakat mengenai ekonomi, baik Trump maupun Biden dipaksa untuk menyelaraskan pesan-pesan mereka dengan prioritas utama pemilih. Inflasi, biaya hidup yang meningkat, dan stabilitas lapangan kerja menjadi isu sentral yang tidak dapat diabaikan. Para politisi, terlepas dari afiliasi partai, cenderung mengadopsi narasi yang mereka yakini paling efektif dalam mengatasi kekhawatiran ini, bahkan jika itu berarti menggemakan poin-poin yang juga diusung oleh lawan politik mereka.
Kesamaan Tak Terduga dalam Narasi Ekonomi
Retorika ekonomi Trump, terutama dalam pidato kenegaraannya di masa lalu, kerap menekankan pada penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan domestik, dan penguatan sektor manufaktur Amerika. Ia secara konsisten membanggakan penurunan angka pengangguran dan peningkatan gaji yang terjadi di bawah pengawasannya. Menariknya, pesan-pesan ini tidak jauh berbeda dengan yang sering diungkapkan Biden saat ini.
Presiden Biden, di sisi lain, seringkali fokus pada ‘Bidenomics’ yang juga menekankan investasi dalam negeri, penciptaan lapangan kerja bergaji baik, dan upaya untuk ‘membangun kembali’ rantai pasokan Amerika. Ia secara rutin menyoroti penurunan inflasi (dari puncaknya) dan investasi besar dalam infrastruktur dan teknologi hijau yang diharapkan akan menciptakan jutaan pekerjaan. Intinya, kedua pemimpin berusaha meyakinkan publik bahwa merekalah pembela sejati kelas pekerja Amerika dan pendorong kemakmuran ekonomi.
Beberapa poin penting dari kesamaan ini meliputi:
- Fokus pada Pekerja Domestik: Baik Trump dengan slogan “America First” maupun Biden dengan “Buy American” dan investasi manufaktur, sama-sama menyoroti pentingnya melindungi dan menciptakan lapangan kerja bagi warga Amerika di tanah air.
- Penguatan Manufaktur: Kedua presiden menyuarakan pentingnya revitalisasi industri manufaktur AS, mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan asing, dan membawa kembali produksi ke dalam negeri.
- Klaim Penciptaan Lapangan Kerja: Masing-masing mengklaim berhasil menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar atau berjanji untuk terus melakukannya, meskipun dengan data dan metrik yang berbeda.
- Penanganan Inflasi: Meskipun metode dan penyebab yang mereka tunjuk berbeda, baik Trump maupun Biden sama-sama mengakui inflasi sebagai masalah utama dan berjanji untuk mengatasinya demi meringankan beban keluarga.
Mengapa Retorika Ini Beresonansi? Sebuah Analisis Pragmatis
Kemiripan retorika ini bukan tanda konvergensi ideologi, melainkan indikasi pragmatisme politik yang mendalam. Para pemilih, terlepas dari preferensi partai, sangat sensitif terhadap kondisi dompet mereka. Ketika inflasi melonjak dan prospek pekerjaan terasa tidak pasti, narasi yang menjanjikan stabilitas, pertumbuhan, dan keamanan finansial menjadi sangat menarik. Dengan mengadopsi pesan-pesan yang beresonansi secara luas, kedua politisi ini berusaha menarik pemilih independen dan moderat yang menjadi penentu dalam pemilihan.
Strategi ini juga menunjukkan bagaimana persepsi publik terhadap ekonomi seringkali lebih dominan daripada rincian kebijakan spesifik. Jika pemilih merasa kesulitan secara finansial, mereka akan lebih reseptif terhadap janji-janji yang menyentuh langsung pada penderitaan mereka, terlepas dari siapa yang menyampaikannya. Hal ini menciptakan tekanan bagi politisi untuk menyajikan solusi yang tampaknya universal, bahkan jika fundamental ekonomi atau pendekatan kebijakan mereka sangat berbeda.
Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini mengingatkan kita pada bagaimana politisi seringkali menggunakan data ekonomi secara selektif untuk mendukung narasi mereka sendiri. Misalnya, ketika Trump mengklaim sukses, ia mungkin menunjuk pada angka pengangguran yang rendah atau pertumbuhan PDB. Sementara itu, Biden mungkin menekankan penciptaan lapangan kerja dalam sektor-sektor baru atau penurunan harga energi yang lebih stabil. Keduanya menyajikan gambaran ekonomi yang optimis, bahkan jika realitas di lapangan terasa lebih kompleks bagi masyarakat umum.
Implikasi Politik dan Ekonomi ke Depan
Kesamaan retorika ekonomi ini memiliki beberapa implikasi penting. Bagi pemilih, hal ini bisa menimbulkan kebingungan atau sinisme, di mana janji-janji dari kedua belah pihak terdengar serupa tanpa perbedaan substantif yang jelas. Namun, bagi para strategis kampanye, ini adalah upaya untuk mengamankan dukungan di tengah iklim ekonomi yang sulit.
Lebih jauh lagi, hal ini mungkin menandakan bahwa terlepas dari label partai, ada konsensus yang berkembang mengenai beberapa tantangan ekonomi yang dihadapi Amerika Serikat. Atau, ini bisa menjadi bukti bahwa politik identitas dan ideologi seringkali mengalah pada kebutuhan praktis untuk memenangkan pemilihan dengan menyuarakan kekhawatiran ekonomi yang paling mendesak. Apapun alasannya, cermin retorika ekonomi antara Trump dan Biden ini menawarkan pandangan tajam tentang prioritas politik yang muncul dari tekanan publik.
Memahami kesamaan ini membantu kita menganalisis lebih dalam dinamika kampanye politik modern. Sebagaimana telah dibahas dalam artikel sebelumnya mengenai tantangan ekonomi AS, tekanan terhadap setiap pemerintahan untuk menunjukkan keberhasilan ekonomi sangatlah besar. Ke depan, kita dapat mengharapkan para pemimpin politik untuk terus menyesuaikan narasi mereka dengan realitas ekonomi yang dirasakan oleh pemilih, bahkan jika itu berarti melintasi batas-batas ideologi tradisional.
