Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

Antisipasi RAFI 2026: Telkomsel Perkuat Jaringan untuk Pengalaman Digital Optimal Termasuk Nonton Olahraga

Telkomsel, sebagai penyedia layanan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, telah mengambil langkah-langkah proaktif dan komprehensif untuk mengantisipasi lonjakan trafik komunikasi dan data yang signifikan...
HomeNasionalZulkifli: Agama Teras Utama Bangun Negara Bersatu dan Beradab Hadapi Krisis

Zulkifli: Agama Teras Utama Bangun Negara Bersatu dan Beradab Hadapi Krisis

Putrajaya – Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama), Dr. Zulkifli Hasan, kembali menegaskan urgensi menjadikan agama sebagai teras utama dalam membangun sebuah negara yang bersatu padu dan beradab. Pernyataan ini disampaikan di tengah kompleksitas krisis dan tantangan generasi masa kini yang semakin mendesak, menandai pentingnya nilai-nilai spiritual dan moral sebagai fondasi kemajuan bangsa.

Menurut Dr. Zulkifli, di era globalisasi yang serba cepat dan penuh gejolak ini, peran agama melampaui sekadar ranah personal atau ritualistik. Ia adalah sebuah sistem nilai komprehensif yang mampu membimbing individu dan komunitas menuju arah kebaikan bersama. “Agama bukan hanya tentang ritual dan ibadah semata, melainkan juga tentang bagaimana kita mengaplikasikan ajaran-ajaran luhur dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan menghadapi segala ujian,” ujarnya.

Agama sebagai Penjaga Moral dan Etika Bangsa

Pernyataan Dr. Zulkifli menyoroti peran sentral nilai-nilai keagamaan dalam membentuk karakter bangsa yang kokoh. Ia percaya bahwa fondasi moral dan etika yang kuat, yang bersumber dari ajaran agama, adalah prasyarat mutlak bagi terciptanya masyarakat yang harmonis, stabil, dan maju. Tanpa pegangan moral yang jelas, masyarakat rentan terjerumus dalam anarkisme sosial, konflik kepentingan, dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan.

Nilai-nilai universal seperti keadilan, kasih sayang, toleransi, integritas, dan tanggung jawab sosial, yang diajarkan oleh setiap agama, adalah pilar-pilar penting dalam membangun peradaban. Ketika nilai-nilai ini dihayati dan diamalkan oleh setiap warga negara, maka persatuan akan terpupuk, dan perpecahan dapat dihindari. Dr. Zulkifli menekankan bahwa dalam konteks Malaysia sebagai negara majemuk, pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama yang moderat dan inklusif adalah kunci untuk menjaga keharmonisan.

Menjawab Krisis dan Tantangan Generasi Masa Kini

Era modern, dengan segala kemajuannya, tak lepas dari berbagai gejolak dan ujian. Dr. Zulkifli secara spesifik menyoroti munculnya krisis identitas di kalangan pemuda, degradasi nilai-nilai moral, peningkatan kasus disintegrasi sosial, serta tekanan psikologis akibat laju informasi dan tuntutan hidup yang serba cepat. Fenomena penyebaran berita palsu, ujaran kebencian, dan budaya konsumerisme yang berlebihan juga menjadi ancaman serius bagi tatanan sosial.

Dalam konteks ini, agama diyakini dapat berfungsi sebagai jangkar, memberikan pegangan dan arah di tengah arus perubahan yang tak menentu. Ia menawarkan perspektif tentang makna hidup, tujuan eksistensi, dan cara menghadapi kesulitan dengan ketabahan. “Generasi muda saat ini menghadapi tekanan yang luar biasa, baik dari media sosial, ekspektasi masyarakat, maupun persaingan global. Agama dapat menjadi sumber kekuatan spiritual dan panduan etika yang membantu mereka menavigasi kompleksitas kehidupan,” jelasnya.

Integrasi Holistik dalam Pembinaan Negara

Untuk mewujudkan visi menjadikan agama sebagai teras pembinaan negara, Dr. Zulkifli menggarisbawahi perlunya pendekatan holistik. Ini berarti integrasi nilai-nilai keagamaan harus melampaui ranah institusi keagamaan formal, merambah ke sektor pendidikan, kebijakan publik, dan pembentukan karakter sejak dini. Kurikulum pendidikan, misalnya, perlu diperkaya dengan pengajaran moral dan etika berbasis agama yang relevan dengan konteks kontemporer, tidak hanya sebagai hafalan, tetapi sebagai pemahaman mendalam yang membentuk budi pekerti.

Selain itu, keterlibatan aktif para pemimpin agama dan komunitas keagamaan dalam dialog sosial, program pembangunan masyarakat, serta inisiatif penyelesaian konflik juga dianggap krusial. Dr. Zulkifli menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan, dari pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga keluarga, memainkan peranan aktif dalam mempromosikan nilai-nilai agama yang positif dan konstruktif. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pembangunan fisik dan ekonomi sejalan dengan pembangunan spiritual dan moral bangsa.

Dengan menjadikan agama sebagai poros, diharapkan negara mampu menciptakan ekosistem sosial yang inklusif dan saling menghargai. Persatuan nasional akan terpupuk bukan hanya karena kesamaan identitas politik, tetapi juga melalui ikatan spiritual dan moral yang kuat. Masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan, di mana setiap individu merasa memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan bersama. Pesan Dr. Zulkifli ini berfungsi sebagai pengingat bagi seluruh elemen masyarakat bahwa dalam hiruk-pikuk modernitas, nilai-nilai spiritual dan keagamaan tetap memegang peranan tak tergantikan sebagai fondasi kemajuan sejati. Mengangkat agama sebagai teras pembinaan negara adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang lebih kokoh, damai, dan berkeadaban.