Phuket, Thailand – Musibah tumpahan minyak dari kapal kargo Sealloyd Arc yang karam awal bulan ini kini telah mencapai Koh Hey, sebuah pulau wisata indah yang terletak di lepas pantai tenggara Phuket. Peristiwa ini memicu kekhawatiran serius akan dampak ekologis dan ekonomi, mengingat Koh Hey, yang juga dikenal sebagai Coral Island, adalah destinasi populer bagi wisatawan domestik maupun internasional. Hingga Kamis ini, pihak berwenang dan tim penyelamat terus melanjutkan operasi pembersihan secara maraton, berkejaran dengan waktu untuk meminimalisir kerusakan lebih lanjut.
Insiden Kapal Karam Sealloyd Arc dan Kronologi Tumpahan
Insiden bermula ketika kapal kargo Sealloyd Arc mengalami kecelakaan dan terbalik di perairan lepas pantai Phuket pada awal bulan Mei. Meskipun detail pasti penyebab karamnya kapal masih dalam penyelidikan, insiden ini segera menimbulkan kekhawatiran akan potensi pencemaran lingkungan akibat muatan minyak yang dibawanya. Pada mulanya, upaya containment dilakukan di sekitar lokasi karamnya kapal. Namun, kondisi arus laut yang kuat dan luasnya area tumpahan membuat sebagian minyak berhasil lolos dari penghalang dan mulai menyebar ke perairan sekitarnya.
Setelah beberapa hari, gumpalan minyak hitam pekat mulai terlihat di garis pantai Koh Hey. Pulau kecil ini terkenal dengan kejernihan airnya, hamparan pasir putih, dan kehidupan bawah laut yang kaya, menjadikannya magnet bagi aktivitas seperti snorkeling, diving, dan berjemur. Kedatangan tumpahan minyak ini sontak merusak keindahan visual pulau dan menimbulkan bau menyengat yang mengganggu, mengubah pemandangan surga tropis menjadi area yang tercemar.
Dampak Ekologis yang Mengkhawatirkan
Dampak ekologis dari tumpahan minyak ini sangat mengkhawatirkan. Terumbu karang di sekitar Koh Hey, yang merupakan habitat vital bagi berbagai spesies ikan dan biota laut lainnya, terancam rusak parah. Lapisan minyak dapat menghalangi cahaya matahari yang esensial untuk fotosintesis alga simbion yang hidup di terumbu karang, menyebabkan pemutihan karang dan akhirnya kematian. Selain itu, banyak organisme laut kecil, mulai dari plankton hingga ikan, burung laut, dan penyu, berisiko terpapar langsung atau tidak langsung oleh minyak, yang dapat menyebabkan keracunan, asfiksia, atau gangguan reproduksi.
Para ahli lingkungan telah memperingatkan bahwa pemulihan ekosistem laut yang tercemar tumpahan minyak dapat memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Kerapuhan ekosistem pulau kecil seperti Koh Hey menjadikannya sangat rentan terhadap jenis bencana lingkungan seperti ini. Kehilangan keanekaragaman hayati tidak hanya merugikan secara ekologis, tetapi juga secara tidak langsung akan berdampak pada sektor pariwisata yang sangat bergantung pada kelestarian alam.
Respons dan Upaya Pembersihan Intensif
Pemerintah Thailand, melalui berbagai lembaga seperti Angkatan Laut Kerajaan Thailand, Departemen Kelautan, dan pemerintah daerah Phuket, segera mengerahkan tim gabungan untuk menangani tumpahan minyak ini. Operasi pembersihan difokuskan pada pengangkatan minyak dari permukaan laut dan pantai, serta mencegah penyebaran lebih lanjut.
Tim menggunakan berbagai metode, termasuk penyedotan minyak dengan kapal khusus, pemasangan oil boom untuk mengurung gumpalan minyak, dan pembersihan manual oleh ratusan relawan serta petugas. Di pantai Koh Hey, pembersihan dilakukan secara cermat untuk mengangkat gumpalan tar dan minyak cair yang menempel di pasir dan bebatuan. Namun, medan yang sulit dan luasnya area yang tercemar menjadi tantangan besar. Meskipun demikian, komitmen untuk membersihkan setiap jengkal area yang terkena dampak ditegaskan oleh juru bicara pihak berwenang setempat.
Kekhawatiran Komunitas Lokal dan Masa Depan Pariwisata
Komunitas lokal di Phuket dan sekitar Koh Hey mengungkapkan keresahan mendalam atas insiden ini. Bagi banyak penduduk, pariwisata adalah tulang punggung perekonomian mereka. Pemandu wisata, pemilik perahu sewaan, operator tur, pengusaha restoran, dan pemilik penginapan dihadapkan pada prospek pembatalan kunjungan wisatawan dan penurunan pendapatan yang signifikan.
“Ini adalah pukulan telak bagi kami. Koh Hey adalah salah satu daya tarik utama, dan dengan pemandangan seperti ini, siapa yang mau datang?” ujar seorang operator tur lokal dengan nada prihatin. Nelayan juga melaporkan adanya penurunan tangkapan ikan dan kekhawatiran akan kontaminasi produk laut. Pemerintah berjanji untuk memberikan dukungan kepada mereka yang terkena dampak ekonomi, namun skala kerugian masih sulit diperkirakan saat ini.
Prospek Jangka Panjang dan Langkah Pencegahan
Ke depan, fokus tidak hanya pada pembersihan, tetapi juga pada investigasi menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti karamnya Sealloyd Arc dan siapa yang bertanggung jawab. Kompensasi atas kerusakan lingkungan dan ekonomi akan menjadi isu krusial yang perlu ditangani. Selain itu, insiden ini kembali menggarisbawahi pentingnya langkah-langkah pencegahan yang lebih ketat untuk transportasi laut, terutama kapal kargo yang membawa bahan berbahaya, di perairan yang dekat dengan kawasan konservasi dan destinasi pariwisata.
Monitoring jangka panjang terhadap kesehatan ekosistem Koh Hey pasca-pembersihan juga akan sangat penting untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan. Tumpahan minyak ini menjadi pengingat pahit bahwa keindahan alam yang menjadi aset utama Thailand dapat dengan mudah terancam oleh kecelakaan maritim, menuntut kewaspadaan dan manajemen risiko yang lebih baik di masa mendatang.
