Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

Antisipasi RAFI 2026: Telkomsel Perkuat Jaringan untuk Pengalaman Digital Optimal Termasuk Nonton Olahraga

Telkomsel, sebagai penyedia layanan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, telah mengambil langkah-langkah proaktif dan komprehensif untuk mengantisipasi lonjakan trafik komunikasi dan data yang signifikan...
HomeUncategorizedThaksin Shinawatra Diprediksi Pensiun dari Politik, Sinyal dari Paetongtarn

Thaksin Shinawatra Diprediksi Pensiun dari Politik, Sinyal dari Paetongtarn

Bangkok – Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, diperkirakan akan mengakhiri kiprah politiknya yang sarat gejolak begitu ia dibebaskan dari penjara. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan oleh putrinya yang juga menjabat Ketua Partai Pheu Thai, Paetongtarn Shinawatra, pada Kamis, mengisyaratkan sebuah babak baru dalam kehidupan figur paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam sejarah politik modern Thailand.

Paetongtarn mengungkapkan bahwa sang ayah kemungkinan besar akan mundur dari arena politik setelah bebas dari tahanan. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi luas mengenai peran Thaksin di masa depan, mengingat pengaruhnya yang tak pernah pudar meski telah puluhan tahun berada di pengasingan dan menghadapi berbagai tuntutan hukum. “Dia kemungkinan akan keluar dari politik,” kata Paetongtarn, merujuk pada ayahnya, dalam sebuah pernyataan yang segera menjadi sorotan media lokal dan internasional.

Kembalinya Thaksin ke Thailand pada Agustus 2023 setelah 15 tahun di pengasingan telah memicu gelombang perdebatan dan intrik politik. Thaksin, yang berusia 74 tahun, langsung ditahan untuk menjalani hukuman delapan tahun penjara atas tuduhan korupsi yang ia klaim bermotif politik. Namun, hanya beberapa jam setelah tiba, ia dipindahkan ke rumah sakit kepolisian dengan alasan kesehatan. Kondisi kesehatannya yang memerlukan perawatan di rumah sakit dan permohonan pengampunan kerajaan yang kemudian mengurangi masa hukumannya menjadi hanya satu tahun, menambah kompleksitas narasi seputar dirinya.

Thaksin Shinawatra: Sosok Kontroversial dan Karir Politik

Thaksin Shinawatra adalah nama yang tak terpisahkan dari polarisasi politik Thailand. Ia pertama kali menjabat Perdana Menteri pada tahun 2001, membawa Partai Thai Rak Thai (pendahulu Pheu Thai) meraih kemenangan telak. Kebijakan-kebijakan populisnya, seperti layanan kesehatan universal, kredit mikro untuk petani, dan pengembangan infrastruktur, membuatnya sangat dicintai oleh masyarakat pedesaan dan kelas bawah. Namun, gaya kepemimpinannya yang kuat dan tuduhan korupsi memicu kemarahan dari elite tradisional, militer, dan kelompok menengah perkotaan.

Kudeta militer pada tahun 2006 menggulingkannya, memaksanya hidup di pengasingan untuk menghindari hukuman. Meskipun secara fisik tidak berada di Thailand, bayangan dan pengaruh politik Thaksin tidak pernah benar-benar pudar. Partai-partai yang berafiliasi dengannya, termasuk Partai Kekuatan Rakyat dan kemudian Partai Pheu Thai, secara konsisten memenangkan sebagian besar pemilu, menunjukkan basis dukungan yang kuat dan loyal. Setiap gerakan dan pernyataan terkait Thaksin selalu menjadi pemicu riak di kancah politik Thailand.

Pernyataan Paetongtarn kali ini bukan sekadar ucapan pribadi. Sebagai kepala partai yang kini berkuasa dan merupakan salah satu kandidat perdana menteri pada pemilu terakhir, kata-katanya membawa bobot politik yang signifikan. Ini bisa menjadi sinyal kuat bahwa keluarga Shinawatra berupaya mengarahkan Thaksin pada citra seorang sesepuh negara yang tidak lagi aktif dalam perebutan kekuasaan, melainkan sebagai penasihat atau simbol inspirasi di balik layar.

Implikasi bagi Lanskap Politik Thailand

Jika Thaksin benar-benar mengakhiri babak panjang dalam karir politiknya, hal ini bisa memiliki implikasi besar bagi masa depan Thailand. Pertama, ini berpotensi meredakan ketegangan politik yang telah lama mendera negara itu. Kehadiran dan pengaruh Thaksin seringkali dianggap sebagai pemicu utama perpecahan antara kubu “merah” (pendukung Thaksin) dan “kuning” (penentang Thaksin).

Kedua, hal ini mungkin memberikan ruang lebih besar bagi generasi baru politisi di Partai Pheu Thai, termasuk Paetongtarn sendiri, untuk membentuk identitas dan arah partai tanpa bayang-bayang ayahnya. Meski demikian, skeptisisme tetap tinggi di kalangan pengamat dan lawan politik. Beberapa pihak mungkin melihat pernyataan ini sebagai strategi untuk mengurangi tekanan publik dan menghindari kontroversi, sementara Thaksin tetap akan memegang kendali di belakang layar.

Pengumuman ini juga bertepatan dengan masa di mana Perdana Menteri Srettha Thavisin, dari Partai Pheu Thai, tengah berusaha menstabilkan pemerintahan koalisi dan fokus pada pemulihan ekonomi. Mundurnya Thaksin dari politik secara formal dapat memberikan legitimasi tambahan bagi pemerintahan saat ini dan membantu menciptakan kesan stabilitas.

Waktu akan menjadi satu-satunya penentu apakah komitmen Thaksin untuk menjauh dari politik akan terpenuhi. Bagi banyak warga Thailand, pengunduran diri Thaksin dari politik aktif akan menandai penghujung era yang telah membentuk lanskap politik negara itu selama lebih dari dua dekade, membuka jalan bagi dinamika baru yang belum teruji.