Mantan PM Selandia Baru Jacinda Ardern Ikut Arus Migrasi ke Australia
Kabar mengejutkan datang dari kancah politik Selandia Baru. Jacinda Ardern, mantan Perdana Menteri yang karismatik dan dihormati di kancah global, baru-baru ini mengonfirmasi rencana untuk memindahkan keluarganya ke Australia. Keputusan ini, yang diungkapkan oleh juru bicaranya, menempatkan Ardern dalam gelombang warga Selandia Baru – atau yang akrab disebut “Kiwi” – yang mencari kehidupan baru di seberang Laut Tasman, di negara tetangga yang lebih besar dan secara ekonomi sering dianggap lebih menjanjikan.
“Untuk saat ini,” demikian penekanan dari juru bicara Ardern, mengisyaratkan bahwa kepindahan ini mungkin bersifat sementara, memberikan fleksibilitas bagi masa depan keluarga Ardern pasca-pengunduran dirinya dari jabatan puncak politik pada Januari 2023. Setelah meninggalkan Downing Street versi Wellington, Ardern memang telah menjalani fase transisi yang sibuk. Ia mengambil peran baru sebagai wali amanat untuk The Earthshot Prize, sebuah inisiatif lingkungan global yang didirikan oleh Pangeran William. Selain itu, ia juga menjadi Duta Khusus untuk UNICEF dalam isu respons bencana, sebuah peran yang memungkinkannya berkontribusi pada isu-isu kemanusiaan di tingkat internasional. Tak hanya itu, Ardern juga menjabat sebagai Distinguished Fellow di perpustakaan Presiden John F. Kennedy. Kepindahannya ke Australia, meskipun bersifat pribadi dan untuk kepentingan keluarga, secara tidak langsung menjadi sorotan publik karena statusnya sebagai salah satu pemimpin global yang paling dikenal dan dikagumi dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena Migrasi Kiwis ke Negeri Kanguru
Keputusan Jacinda Ardern bukanlah sebuah anomali, melainkan cerminan dari fenomena migrasi yang sudah berlangsung puluhan tahun antara Selandia Baru dan Australia. Hubungan trans-Tasman, yang sering disebut sebagai “keluarga besar” dengan kedekatan budaya, sejarah, dan bahkan bahasa yang mirip, juga ditandai dengan arus perpindahan penduduk yang signifikan dan terus-menerus. Sejak lama, ribuan warga Selandia Baru setiap tahunnya menyeberang ke Australia, didorong oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial yang menarik.
Australia, dengan ekonomi yang jauh lebih besar dan pasar kerja yang lebih luas serta beragam, seringkali menawarkan gaji yang lebih tinggi serta kesempatan karier yang lebih menjanjikan. Biaya hidup, di beberapa sektor seperti perumahan dan barang konsumsi tertentu, terasa lebih terjangkau dibandingkan di Selandia Baru, terutama di kota-kota besar seperti Auckland dan Wellington yang belakangan menghadapi tekanan inflasi yang signifikan dan krisis harga properti. Faktor kedekatan geografis dan kemudahan perjalanan juga membuat Australia menjadi pilihan alami bagi para Kiwi yang ingin mencari peluang baru tanpa harus terlalu jauh dari tanah air mereka.
Data terbaru dari Departemen Statistik Selandia Baru menunjukkan adanya peningkatan tajam dalam jumlah warga yang meninggalkan negara tersebut, dengan Australia menjadi tujuan utama. Pada tahun fiskal yang berakhir Juni 2023, tercatat bahwa net migrasi keluar mencapai rekor 52.000 jiwa, dengan mayoritas (sekitar 78%) memilih Australia sebagai destinasi mereka. Angka ini adalah yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade, dan sangat signifikan bagi negara berpenduduk sekitar 5,2 juta jiwa ini. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai “brain drain” atau “pengurasan otak,” menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pemerintah, ekonom, dan pengusaha Selandia Baru mengenai hilangnya talenta, tenaga kerja terampil, dan dampak jangka panjang terhadap produktivitas serta pertumbuhan ekonomi. Sektor-sektor vital seperti kesehatan, pendidikan, konstruksi, dan pertanian seringkali merasakan dampak langsung dari eksodus ini, menyebabkan kekurangan staf dan tekanan pada layanan publik.
Ardern: Simbol Sebuah Tren dan Tantangan Nasional
Bagi Selandia Baru, kepindahan Jacinda Ardern, meskipun bersifat pribadi dan didasari oleh pertimbangan keluarga, mungkin terasa sangat simbolis. Selama masa kepemimpinannya dari tahun 2017 hingga 2023, Ardern dikenal sebagai sosok yang membawa empati dan ketegasan dalam menghadapi berbagai krisis, mulai dari serangan teror Christchurch yang memilukan, letusan gunung berapi White Island yang tragis, hingga pandemi COVID-19 yang menguji ketahanan global. Ia menjadi ikon global bagi kepemimpinan progresif dan telah menerima pujian internasional atas responsnya yang cepat, efektif, dan berbasis kasih sayang terhadap berbagai tantangan. Kepergiannya dari panggung politik Selandia Baru sudah meninggalkan kekosongan yang terasa, dan kini kepindahannya secara fisik ke Australia, bahkan untuk sementara, menegaskan kembali bahwa babak baru telah dimulai dalam kehidupan pribadinya pasca-jabatan tertinggi negara.
Tren migrasi ini juga menyoroti tantangan struktural dan ekonomi yang terus-menerus dihadapi Selandia Baru dalam mempertahankan penduduknya. Meskipun Selandia Baru secara konsisten menduduki peringkat tinggi dalam indeks kualitas hidup, menawarkan keindahan alam yang memukau, dan masyarakat yang umumnya kohesif, tekanan ekonomi seperti inflasi yang tinggi, kenaikan harga properti yang tidak terjangkau, dan stagnasi upah relatif terhadap Australia, terus menjadi pemicu utama migrasi. Kepindahan mantan pemimpin sekaliber Ardern ke Australia, meskipun tidak akan secara langsung mempengaruhi kebijakan migrasi atau ekonomi makro, namun ia secara tak terhindarkan menambah bobot pada narasi tentang daya tarik relatif kedua negara. Ini menjadi pengingat bahwa bahkan bagi figur paling menonjol sekalipun, pertimbangan pribadi dan keluarga seringkali menjadi penentu utama dalam keputusan besar kehidupan, yang pada akhirnya juga mencerminkan kondisi sosial-ekonomi yang lebih luas.
