Pengantar: Empat Tahun Perang Ukraina dan Pergeseran Orde Dunia
Empat tahun sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai, lanskap geopolitik global telah mengalami transformasi fundamental yang dramatis. Konflik yang semula dipandang sebagai krisis regional telah memicu pergeseran kekuasaan, aliansi, dan persepsi internasional. Dalam analisis terbarunya, ekonom terkemuka dan kritikus kebijakan luar negeri AS, Profesor Jeffrey Sachs, mengemukakan pandangan tajamnya mengenai implikasi perang ini terhadap orde dunia. Menurut Sachs, anggapan Amerika Serikat sebagai hegemon yang berhak mengendalikan segalanya telah berubah menjadi realitas pahit di mana AS berperan sebagai “pengganggu” yang kuat dan kejam, sementara Eropa terperosok dalam kebingungan, demoralisasi, dan perpecahan. Pernyataan ini membuka diskusi luas mengenai dinamika kekuatan global dan masa depan hubungan internasional.
Amerika Serikat: Dari Hegemon Menjadi ‘Pengganggu’ Global
Jeffrey Sachs, yang dikenal dengan pandangannya yang sering kali kontroversial namun berbasis data, mengkritik keras peran Amerika Serikat pasca-Perang Dingin. Menurutnya, AS memegang ilusi hegemoninya, meyakini bahwa mereka adalah satu-satunya negara adidaya yang mampu mendikte arah urusan global. Namun, realitas yang terjadi, terutama setelah empat tahun konflik Ukraina, menunjukkan wajah yang berbeda. Sachs menggambarkan AS sebagai “pengganggu” (bully) global—sebuah kekuatan yang memang masih sangat kuat dan dominan secara militer maupun ekonomi, namun cenderung menggunakan kekuatannya secara unilateral dan agresif, daripada melalui diplomasi dan konsensus multilateral.
Pandangan ini mencerminkan argumentasi bahwa kebijakan luar negeri AS, termasuk ekspansi NATO ke timur, campur tangan dalam urusan negara lain, serta penerapan sanksi ekonomi, seringkali dianggap sebagai bentuk penegasan dominasi tanpa mempertimbangkan kepentingan atau kedaulatan negara lain. Dalam konteks perang Ukraina, Sachs mengisyaratkan bahwa dukungan tanpa syarat AS terhadap Ukraina, meskipun bertujuan menghentikan agresi, juga dilihat sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan hegemoni Barat melawan pengaruh Rusia dan, secara lebih luas, Tiongkok. Kekuatan militer dan ekonomi AS yang luar biasa memang tidak diragukan, namun cara penggunaannya, menurut Sachs, justru menciptakan ketidakstabilan dan polarisasi, alih-alih membangun tatanan yang lebih damai dan adil.
Eropa: Kebingungan dan Ketergantungan sebagai ‘Bawahan’
Bukan hanya Amerika Serikat yang menjadi sasaran kritik Sachs, Eropa juga disorot tajam. Ia menggambarkan Eropa sebagai “bawahan” (vassal) yang “benar-benar bingung, demoralisasi, dan terpecah belah.” Istilah “bawahan” menyiratkan kurangnya otonomi strategis dan ketergantungan yang kuat pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Setelah invasi Rusia, sebagian besar negara Eropa memang secara tegas mendukung posisi AS, memberlakukan sanksi berat terhadap Rusia, dan menyediakan bantuan militer serta keuangan besar-besaran untuk Ukraina.
Namun, di balik solidaritas itu, Sachs melihat adanya kerentanan dan kebingungan. Eropa dihadapkan pada konsekuensi ekonomi yang serius, terutama terkait krisis energi akibat pengurangan pasokan gas Rusia, inflasi yang meningkat, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kebingungan ini diperparah oleh perbedaan pandangan di antara negara-negara anggota Uni Eropa mengenai strategi jangka panjang terhadap Rusia, peran NATO, dan cara terbaik untuk mengamankan masa depan energi dan keamanan mereka. Demoralisasi muncul dari kenyataan bahwa Eropa, yang berdekatan langsung dengan konflik, menanggung beban ekonomi dan politik yang signifikan, sementara aspirasi untuk mencapai “otonomi strategis” Uni Eropa tampaknya semakin jauh dari kenyataan. Perpecahan internal juga terlihat, dengan beberapa negara anggota memiliki kepentingan dan prioritas yang berbeda, menghambat pembentukan suara Eropa yang bersatu dan independen di panggung dunia.
Implikasi Global: Menuju Dunia Multipolar?
Perang Ukraina dan reaksi global terhadapnya, menurut Sachs, telah mempercepat pergeseran dramatis dalam orde dunia. Era unipolar pasca-Perang Dingin, di mana Amerika Serikat menjadi satu-satunya kutub kekuatan dominan, kini sedang bergeser menuju era multipolar. Negara-negara non-Barat, seperti Tiongkok, India, dan negara-negara di Afrika serta Amerika Latin, semakin menegaskan posisi mereka dan menolak untuk sepenuhnya memihak salah satu blok. Mereka mencari jalan tengah, membangun aliansi baru, dan mengembangkan alternatif terhadap sistem keuangan dan politik yang didominasi Barat.
Fenomena “de-dolarisasi” dan pertumbuhan organisasi seperti BRICS+ (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, ditambah anggota baru seperti Arab Saudi, Iran, UEA, Mesir, dan Ethiopia) adalah indikasi kuat dari pergeseran ini. Negara-negara ini berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan lembaga keuangan Barat, menciptakan sistem perdagangan dan investasi yang lebih beragam. Perang di Ukraina telah menjadi katalisator yang mempercepat proses ini, mengungkap kerentanan dalam sistem global yang ada dan mendorong negara-negara untuk mencari jalur independen. Ini bukan hanya tentang penolakan terhadap AS, tetapi juga tentang afirmasi kedaulatan dan pencarian tatanan dunia yang lebih seimbang dan representatif.
Analisis Kritis Sachs dan Prospek Masa Depan
Analisis Jeffrey Sachs menyoroti kegagalan pendekatan yang berpusat pada hegemoni dan unilateralisme dalam menghadapi tantangan global yang kompleks. Ia secara konsisten menganjurkan dialog, diplomasi, dan kerja sama multilateral sebagai jalan keluar dari konflik dan ketidakstabilan. Bagi Sachs, tragedi di Ukraina bukan hanya tentang invasi, tetapi juga tentang konsekuensi dari kebijakan yang gagal memahami batas-batas kekuatan dan pentingnya mengakui kepentingan sah semua pihak dalam tatanan global.
Pandangan Sachs, meskipun provokatif, mendorong kita untuk merefleksikan kembali asumsi-asumsi dasar mengenai hubungan internasional. Masa depan orde dunia kemungkinan akan ditandai oleh fragmentasi yang lebih besar, munculnya pusat-pusat kekuatan baru, dan persaingan antara berbagai visi tentang bagaimana dunia harus diatur. Perdebatan mengenai hegemoni, otonomi, dan multilateralisme akan terus menjadi inti dari wacana geopolitik, sementara konflik Ukraina akan dikenang sebagai titik balik krusial yang mengubah arah sejarah kontemporer.
