LONDON – Instagram, platform media sosial raksasa di bawah naungan Meta, mengumumkan langkah signifikan dalam upaya perlindungan remaja. Perusahaan menyatakan akan memberikan notifikasi kepada orang tua jika remaja mereka berulang kali mencari istilah terkait bunuh diri atau melukai diri sendiri dalam waktu singkat. Kebijakan baru ini datang seiring meningkatnya desakan bagi pemerintah di seluruh dunia, khususnya di Inggris, untuk meniru langkah Australia yang melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun.
Pengumuman dari Instagram ini mencerminkan pengakuan akan peran media sosial yang semakin krusial dalam kehidupan remaja, sekaligus kekhawatiran yang terus tumbuh mengenai dampaknya terhadap kesehatan mental mereka. Dengan fitur notifikasi ini, Instagram berharap dapat memberikan alat tambahan kepada orang tua untuk memantau dan campur tangan jika anak mereka menunjukkan tanda-tanda kerentanan emosional atau krisis.
Mekanisme spesifik bagaimana Instagram mendefinisikan ‘berulang kali mencari’ atau ‘waktu singkat’ tidak dijelaskan secara rinci dalam pengumuman awal, namun diperkirakan akan melibatkan algoritma canggih yang mampu mendeteksi pola pencarian yang mengkhawatirkan. Setelah terdeteksi, sistem akan memicu notifikasi yang dikirimkan kepada orang tua yang akunnya terhubung dan memiliki izin untuk memantau aktivitas anaknya.
Tekanan Global untuk Keamanan Digital Remaja
Langkah Instagram ini datang di tengah perdebatan sengit di Inggris mengenai Undang-Undang Keamanan Daring (Online Safety Bill) yang kontroversial. Undang-undang ini bertujuan untuk menekan perusahaan teknologi agar lebih bertanggung jawab atas konten berbahaya yang beredar di platform mereka. Pemerintah Inggris, di bawah tekanan dari berbagai kelompok advokasi dan keluarga korban, sedang mempertimbangkan pembatasan usia yang lebih ketat untuk akses media sosial, bahkan potensi pelarangan total bagi anak di bawah usia tertentu, mirip dengan yang diberlakukan di Australia.
Australia telah menjadi pelopor dengan memberlakukan larangan penggunaan media sosial secara menyeluruh bagi anak di bawah 16 tahun. Kebijakan ini didasarkan pada kekhawatiran serius tentang paparan konten yang tidak pantas, cyberbullying, dan dampak negatif terhadap perkembangan kognitif serta emosional anak-anak. Keputusan Australia ini telah memicu diskusi serupa di banyak negara, termasuk Inggris, mengenai tanggung jawab platform dan perlunya intervensi regulasi yang lebih kuat.
Para ahli kesehatan mental dan organisasi perlindungan anak telah lama menyuarakan kekhawatiran mereka tentang korelasi antara penggunaan media sosial yang berlebihan dan peningkatan kasus depresi, kecemasan, serta ide bunuh diri di kalangan remaja. Meskipun media sosial dapat menjadi alat yang kuat untuk koneksi dan dukungan, ia juga dapat menjadi sumber tekanan, perbandingan sosial yang tidak sehat, dan paparan terhadap konten yang merusak.
Kontroversi dan Tantangan Implementasi
Meskipun niat di balik fitur baru Instagram ini adalah mulia, implementasinya tidak lepas dari kontroversi dan tantangan. Salah satu isu utama adalah privasi remaja. Beberapa pihak berpendapat bahwa notifikasi kepada orang tua dapat merusak kepercayaan antara remaja dan platform, bahkan antara remaja dan orang tua mereka, serta berpotensi melanggar hak privasi digital anak.
Selain itu, efektivitas fitur ini juga dipertanyakan. Remaja yang ingin menyembunyikan pencarian sensitif mungkin akan mencari cara lain untuk melakukannya, atau beralih ke platform lain yang tidak memiliki fitur pemantauan serupa. Ada juga kekhawatiran bahwa notifikasi dapat menyebabkan kepanikan yang tidak perlu pada orang tua atau memicu konfrontasi yang kurang konstruktif jika tidak ditangani dengan hati-hati dan dukungan yang tepat.
Meta, perusahaan induk Instagram, memiliki sejarah panjang dalam menghadapi kritik terkait masalah keamanan dan privasi pengguna, terutama yang berkaitan dengan remaja. Langkah ini dapat dilihat sebagai upaya untuk proaktif dalam menanggapi tekanan regulasi dan meningkatkan citra perusahaan sebagai entitas yang peduli terhadap kesejahteraan penggunanya. Namun, tanggung jawab utama tetap berada pada menciptakan lingkungan daring yang benar-benar aman dan mendukung.
Inisiatif Instagram ini, bersama dengan tekanan regulasi dari pemerintah, mencerminkan pergeseran paradigma dalam cara masyarakat dan pembuat kebijakan memandang platform media sosial. Masa depan penggunaan media sosial oleh remaja kemungkinan akan melibatkan keseimbangan yang lebih ketat antara inovasi teknologi, kebebasan berekspresi, dan perlindungan fundamental terhadap kesehatan dan keselamatan digital mereka.
