Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

Antisipasi RAFI 2026: Telkomsel Perkuat Jaringan untuk Pengalaman Digital Optimal Termasuk Nonton Olahraga

Telkomsel, sebagai penyedia layanan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, telah mengambil langkah-langkah proaktif dan komprehensif untuk mengantisipasi lonjakan trafik komunikasi dan data yang signifikan...
HomeEkonomi & BisnisIndonesia Kehilangan Potensi Investasi Rp1.500 Triliun, Ini Pelajaran dari Vietnam

Indonesia Kehilangan Potensi Investasi Rp1.500 Triliun, Ini Pelajaran dari Vietnam

Indonesia Kehilangan Potensi Investasi Rp1.500 Triliun, Wajib Intip Sukses Vietnam

JAKARTA – Indonesia, sebuah negara dengan potensi ekonomi dan sumber daya alam yang melimpah, baru-baru ini dihadapkan pada fakta mengejutkan. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan bahwa Indonesia sempat kehilangan potensi investasi yang sangat besar, mencapai angka Rp1.500 triliun. Angka fantastis ini tidak hanya sekadar deretan digit, melainkan cerminan dari peluang ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan percepatan pembangunan yang terlewatkan. Situasi ini pun memunculkan seruan mendesak agar Indonesia belajar dari keberhasilan negara tetangga, terutama Vietnam, dalam menarik dan mempertahankan investasi asing.

Kerugian potensi investasi sebesar Rp1.500 triliun bukanlah jumlah yang sedikit. Jika dikonversi, jumlah tersebut setara dengan lebih dari setengah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia pada tahun tertentu, atau bahkan bisa membangun ratusan ribu fasilitas publik, mulai dari sekolah, rumah sakit, hingga infrastruktur vital seperti jalan tol dan pelabuhan. Hilangnya investasi sebesar ini mengindikasikan adanya celah besar dalam daya saing Indonesia di mata investor global, sebuah alarm yang harus ditanggapi serius oleh pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

Mengapa Indonesia Kehilangan Potensi Besar Ini?

Meskipun Kementerian Investasi/BKPM tidak merinci secara eksplisit penyebab pasti hilangnya potensi investasi sebesar Rp1.500 triliun, para pengamat ekonomi dan pelaku usaha seringkali menyoroti beberapa faktor krusial yang kerap menjadi hambatan. Salah satu isu utama adalah kompleksitas birokrasi dan perizinan yang masih dirasakan berbelit-belit. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai reformasi melalui Undang-Undang Cipta Kerja dan sistem Online Single Submission (OSS), implementasi di lapangan masih sering menemukan kendala.

Selain itu, ketidakpastian regulasi dan kebijakan juga menjadi momok bagi investor. Perubahan aturan yang terlalu sering atau interpretasi yang berbeda antarlembaga pemerintah dapat menimbulkan keraguan dan mengurangi minat investasi jangka panjang. Faktor lain yang tak kalah penting adalah ketersediaan infrastruktur yang belum merata, terutama di luar Jawa, serta biaya logistik yang masih tergolong tinggi dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Kondisi ini membuat biaya produksi di Indonesia menjadi kurang kompetitif.

Isu ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan sesuai dengan kebutuhan industri juga seringkali menjadi catatan. Meskipun memiliki bonus demografi, kesenjangan antara keterampilan lulusan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja masih menjadi tantangan yang perlu diatasi secara serius.

Vietnam: Sebuah Studi Kasus yang Menginspirasi

Di tengah tantangan yang dihadapi Indonesia, Vietnam justru mampu menarik perhatian banyak investor global. Negara komunis ini, dalam beberapa dekade terakhir, telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi investasi favorit di Asia Tenggara, khususnya di sektor manufaktur dan ekspor. Kesuksesan Vietnam ini bukan datang begitu saja, melainkan hasil dari strategi dan kebijakan yang konsisten serta berorientasi pada investor.

Salah satu kunci keberhasilan Vietnam adalah kemudahan berusaha yang signifikan. Pemerintah Vietnam secara agresif menyederhanakan prosedur investasi, menawarkan insentif fiskal yang menarik seperti pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan untuk periode tertentu, serta menyediakan lahan industri dengan harga kompetitif. Mereka juga memiliki stabilitas politik yang relatif terjaga, memberikan jaminan keamanan bagi investor.

Lebih lanjut, Vietnam sangat aktif dalam menjalin perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan berbagai negara dan blok ekonomi besar, termasuk Uni Eropa (EVFTA) dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). Ini memberikan akses pasar yang luas bagi produk-produk yang dihasilkan di Vietnam, sehingga meningkatkan daya tarik sebagai basis produksi dan ekspor. Investasi pada pengembangan infrastruktur, baik fisik maupun digital, juga terus digenjot untuk menunjang aktivitas industri.

Pemerintah Vietnam juga menunjukkan komitmen kuat dalam pengembangan sumber daya manusia, dengan fokus pada pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Tenaga kerja yang muda, produktif, dan relatif kompetitif dalam hal upah juga menjadi salah satu nilai jual utama Vietnam.

Pelajaran dan Langkah ke Depan bagi Indonesia

Melihat kesuksesan Vietnam, Indonesia memiliki banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik. Pertama, penyederhanaan birokrasi dan kepastian hukum harus menjadi prioritas utama. Implementasi UU Cipta Kerja dan sistem OSS harus terus diperkuat, diiringi dengan sosialisasi yang masif dan penegakan hukum yang konsisten. Kepastian regulasi, terutama terkait investasi, adalah fondasi penting untuk membangun kepercayaan investor.

Kedua, pemberian insentif investasi yang kompetitif dan terukur perlu dievaluasi dan ditingkatkan. Indonesia perlu lebih proaktif dalam menawarkan paket insentif yang menarik, tidak hanya dalam bentuk fiskal tetapi juga non-fiskal, seperti kemudahan akses lahan atau dukungan infrastruktur khusus bagi proyek-proyek strategis. Namun, insentif ini harus diimbangi dengan target kinerja dan kontribusi terhadap ekonomi nasional.

Ketiga, perbaikan infrastruktur dan konektivitas, baik darat, laut, maupun udara, harus terus menjadi fokus. Pembangunan infrastruktur bukan hanya tentang fisik, tetapi juga digital, yang krusial untuk efisiensi bisnis modern. Selain itu, upaya menekan biaya logistik harus terus dilakukan melalui berbagai inovasi dan kebijakan.

Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh diabaikan. Pemerintah perlu memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri, memastikan kurikulum relevan, serta mendorong pelatihan keterampilan yang responsif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.

Kementerian Investasi/BKPM telah menunjukkan komitmennya dalam menarik investasi, namun tantangan ke depan masih besar. Koordinasi yang lebih erat antar kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan sektor swasta menjadi kunci untuk menciptakan iklim investasi yang benar-benar kondusif. Hilangnya potensi investasi Rp1.500 triliun adalah pengingat pahit, namun sekaligus cambuk untuk berbenah dan belajar dari yang terbaik demi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih cerah.