Kuantan, Malaysia – Sebuah pertemuan hangat di tengah riuhnya bazar Ramadan pada petang kemarin tak disangka menjadi kenangan terakhir bagi Ahmad Balia Murqam, seorang remaja berusia 15 tahun, dengan seluruh anggota keluarga intinya. Dalam kepiluan mendalam, Ahmad Balia mengungkapkan bahwa ia sempat berbincang dan berbagi tawa dengan ayah, ibu, serta tiga adiknya hanya beberapa jam sebelum sebuah tragedi memilukan merenggut nyawa mereka secara tiba-tiba. Kesaksiannya yang polos namun getir, “Saya sempat berjumpa dengan ayah, ibu dan tiga beradik di bazar Ramadan petang semalam, ketika itu tiada apa-apa perubahan (pada mereka),” menjadi inti dari kisah duka yang kini menyelimuti Kuantan.
### Pertemuan Terakhir di Bazar Ramadan
Bazar Ramadan di Kuantan, seperti di banyak tempat lain di Malaysia, selalu menjadi pusat keramaian dan kebahagiaan menjelang waktu berbuka puasa. Aroma berbagai hidangan khas Ramadan, tawa riang anak-anak, dan obrolan hangat antar keluarga menciptakan suasana penuh kebersamaan yang sangat dinanti setiap tahunnya. Bagi Ahmad Balia dan keluarganya, sore kemarin seharusnya menjadi momen yang sama – sebuah rutinitas menjelang Idulfitri, di mana mereka berkumpul untuk memilih takjil dan hidangan berbuka puasa. Keluarga Murqam dikenal sebagai keluarga yang harmonis dan selalu menghargai waktu kebersamaan.
Ahmad Balia, dengan senyum polosnya, menceritakan bagaimana ia menikmati interaksi tersebut. Ia melihat ayah, ibu, dan ketiga adiknya dalam keadaan sehat dan ceria. Tidak ada firasat buruk, tidak ada tanda-tanda perubahan perilaku atau kondisi fisik yang mencurigakan. Mereka berbelanja, mungkin berbagi cerita ringan tentang hari itu, dan merencanakan hidangan untuk buka puasa bersama di rumah. Momen sederhana itu kini menjadi harta berharga, sebuah potret kebahagiaan yang tiba-tiba sirna, meninggalkan Ahmad Balia sendirian menghadapi badai duka.
### Keterkejutan Ahmad Balia: “Tiada Perubahan…”
Ucapan Ahmad Balia, “ketika itu tiada apa-apa perubahan (pada mereka),” menggarisbawahi betapa mendadak dan tak terduganya tragedi yang menimpa keluarganya. Frasa tersebut bukan sekadar pernyataan, melainkan cerminan dari sebuah kehidupan yang tiba-tiba terenggut tanpa peringatan. Dalam benak seorang remaja, melihat orang-orang terkasih dalam keadaan normal, lalu tak lama kemudian dihadapkan pada kenyataan pahit kehilangan mereka selamanya, adalah pukulan yang luar biasa berat.
Keterkejutan ini bukan hanya dirasakan oleh Ahmad Balia, tetapi juga oleh seluruh kerabat, tetangga, dan masyarakat Kuantan yang mengenal keluarga tersebut. Bagaimana mungkin sebuah kehangatan keluarga yang baru saja disaksikan di tengah keramaian bazar bisa berubah menjadi duka yang tak terhingga hanya dalam hitungan jam? Tragedi ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan kerapuhan hidup dan betapa cepatnya kebahagiaan bisa direnggut oleh takdir yang tak terduga. Ahmad Balia kini harus memproses kenyataan bahwa pertemuan di bazar Ramadan itu adalah perpisahan terakhirnya dengan ayah, ibu, dan tiga adik tercinta.
### Duka Mendalam Menyelimuti Kuantan
Kabar mengenai musibah yang menimpa keluarga Murqam menyebar dengan cepat di Kuantan, menyisakan kesedihan yang mendalam di hati banyak orang. Kehilangan lima anggota keluarga sekaligus—dua orang tua dan tiga anak—adalah pukulan telak yang sulit diterima oleh akal sehat. Jalan-jalan yang tadinya dipenuhi tawa dan hiruk-pikuk bazar Ramadan kini terasa senyap, digantikan oleh suasana berkabung dan simpati yang meluas.
Pihak berwenang setempat dan warga masyarakat segera bergerak untuk memberikan dukungan moral dan bantuan yang diperlukan. Rumah duka dipenuhi oleh pelayat yang datang untuk mengucapkan belasungkawa dan mendoakan para korban. Bagi Ahmad Balia, beban emosional yang harus dipikulnya di usia muda ini tak terlukiskan. Ia adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarga intinya, dan kenangan akan pertemuan terakhir di bazar Ramadan terus menghantui pikirannya, bercampur aduk dengan rasa kehilangan yang amat sangat.
### Solidaritas Komunitas Menghadapi Tragedi
Dalam situasi duka seperti ini, solidaritas komunitas menjadi sangat penting. Tetangga, teman sekolah Ahmad Balia, guru-guru, dan berbagai organisasi kemasyarakatan di Kuantan telah menunjukkan dukungan luar biasa. Mereka menawarkan bantuan praktis, mulai dari persiapan pemakaman hingga dukungan emosional bagi Ahmad Balia. Upaya kolektif ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban berat yang dipikul oleh remaja tersebut, membantunya melewati masa-masa paling sulit dalam hidupnya.
Pemerintah setempat juga dilaporkan sedang mengkaji bentuk bantuan jangka panjang untuk Ahmad Balia, memastikan bahwa ia mendapatkan dukungan psikologis dan kebutuhan dasar yang memadai agar dapat melanjutkan hidup. Kisah tragis ini mengingatkan kita akan pentingnya saling peduli dan bahu-membahu dalam menghadapi cobaan hidup, terutama bagi mereka yang paling rentan seperti Ahmad Balia yang kehilangan seluruh sandaran hidupnya secara mendadak.
### Mengingat Keluarga di Bulan Penuh Berkah
Ramadan, bulan yang seharusnya dipenuhi dengan berkah, kebersamaan, dan persiapan menyambut hari raya Idulfitri, kini menjadi saksi bisu bagi tragedi keluarga Murqam. Bagi Ahmad Balia, bulan suci ini akan selalu menjadi pengingat pahit akan perpisahan yang tak terduga dengan orang-orang yang paling ia cintai. Kenangan akan tawa ayahnya, kehangatan pelukan ibunya, dan keceriaan adik-adiknya akan terus hidup dalam ingatannya.
Meski duka ini begitu mendalam, ada harapan bahwa Ahmad Balia dapat menemukan kekuatan untuk terus maju. Dengan dukungan dari komunitas dan kenangan indah bersama keluarganya, ia diharapkan dapat melalui proses penyembuhan dan membangun kembali kehidupannya. Tragedi ini adalah pengingat bagi kita semua akan pentingnya menghargai setiap momen bersama orang-orang terkasih, karena kita tidak pernah tahu kapan perpisahan terakhir akan tiba.
