Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

― Advertisement ―

spot_img

Mengungkap Siapa Sebenarnya Pencetus Tunjangan Hari Raya untuk PNS

Mengungkap Siapa Sebenarnya Pencetus Tunjangan Hari Raya untuk PNS Pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) merupakan salah satu momen yang paling dinantikan oleh jutaan Aparatur Sipil...
HomeInternasionalJunta Myanmar Gempur Pasar di Rakhine, 17 Warga Sipil Tewas

Junta Myanmar Gempur Pasar di Rakhine, 17 Warga Sipil Tewas

Serangan Udara Junta Myanmar Tewaskan 17 Warga Sipil di Pasar Rakhine

MYANMAR – Sebuah serangan udara mematikan yang dilancarkan oleh junta militer Myanmar telah menghantam sebuah pasar yang ramai di wilayah Rakhine, menewaskan sedikitnya 17 warga sipil tak berdosa. Insiden brutal ini, yang kembali menargetkan area publik, menambah panjang daftar kekejaman yang dilakukan rezim militer terhadap penduduknya sendiri, memperparah krisis kemanusiaan yang mendera negara tersebut.

Gempuran udara ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang terus-menerus antara junta militer dan berbagai kelompok perlawanan etnis di Myanmar, khususnya di wilayah Rakhine yang selama ini menjadi medan pertempuran sengit. Pasar yang dihantam tersebut, yang seharusnya menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat, kini berubah menjadi lokasi tragedi berdarah, menyisakan duka mendalam dan kehancuran.

Detail Serangan dan Dampaknya

Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa pesawat tempur junta militer tiba-tiba menjatuhkan bom di area pasar. Serangan ini terjadi tanpa peringatan, menyebabkan kepanikan massal di antara para pedagang dan pengunjung yang sedang beraktivitas. Akibatnya, sedikitnya 17 orang kehilangan nyawa mereka di tempat kejadian, sementara puluhan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Jumlah korban diperkirakan bisa bertambah mengingat kondisi pasar yang padat saat serangan terjadi dan sulitnya akses ke lokasi untuk evakuasi dan perawatan medis.

Korban tewas sebagian besar adalah warga sipil biasa, termasuk wanita dan anak-anak, yang tidak memiliki kaitan langsung dengan konflik bersenjata. Kehancuran infrastruktur pasar juga sangat signifikan, mengganggu pasokan kebutuhan pokok dan mata pencarian ribuan warga. Insiden semacam ini secara sistematis menghancurkan kehidupan sosial dan ekonomi komunitas yang sudah rentan, memperdalam lingkaran kemiskinan dan penderitaan.

Konteks Konflik di Rakhine dan Kekerasan Junta

Wilayah Rakhine telah lama menjadi episentrum konflik bersenjata yang kompleks, melibatkan junta militer Myanmar (Tatmadaw) melawan Tentara Arakan (Arakan Army/AA), sebuah kelompok etnis bersenjata yang memiliki pengaruh kuat di wilayah tersebut. Meskipun gencatan senjata tidak resmi sempat berlaku, pertempuran kembali berkobar intens dalam beberapa bulan terakhir, menyebabkan gelombang pengungsian dan korban sipil yang masif. Junta militer seringkali dituduh menggunakan kekuatan udara dan artileri secara berlebihan di daerah sipil, dengan dalih memerangi kelompok perlawanan.

Insiden serangan udara di pasar ini bukan yang pertama kali terjadi. Sejak kudeta militer pada Februari 2021, Myanmar terus dilanda kekerasan serupa. Laporan-laporan sebelumnya telah mendokumentasikan serangan yang menargetkan warga sipil di berbagai wilayah, termasuk di negara bagian Sagaing, Karen, dan Kachin, yang menunjukkan pola sistematis penggunaan kekuatan brutal terhadap penduduk yang dianggap mendukung gerakan perlawanan. Situasi ini mendapatkan perhatian serius dari PBB dan organisasi hak asasi manusia internasional, yang berulang kali menyerukan perlindungan warga sipil dan akuntabilitas bagi para pelaku kekerasan.

Dampak Kemanusiaan yang Mengerikan

Serangan brutal ini memperparah kondisi kemanusiaan di Rakhine, yang sudah sangat genting. Wilayah ini telah mengalami krisis pengungsian besar-besaran akibat konflik bertahun-tahun, termasuk pengungsian komunitas Rohingya. Pembatasan akses kemanusiaan oleh junta semakin mempersulit upaya bantuan, meninggalkan jutaan orang tanpa makanan, tempat tinggal, dan perawatan medis yang memadai.

Poin-poin penting mengenai dampak kemanusiaan:

  • Peningkatan Pengungsian: Ribuan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka mencari perlindungan, hidup dalam ketidakpastian.
  • Kekurangan Pangan dan Medis: Blokade dan pembatasan akses menyebabkan kelangkaan kebutuhan dasar dan obat-obatan.
  • Trauma Psikologis: Anak-anak dan orang dewasa mengalami trauma mendalam akibat menyaksikan kekerasan yang mengerikan.
  • Keruntuhan Ekonomi Lokal: Pasar dan fasilitas vital lainnya hancur, memusnahkan mata pencarian dan memperparah kemiskinan.

Reaksi Internasional dan Seruan Akuntabilitas

Komunitas internasional secara luas mengecam keras serangan terhadap warga sipil ini. Berbagai organisasi hak asasi manusia mendesak PBB dan Dewan Keamanan untuk mengambil tindakan lebih tegas terhadap junta militer Myanmar. Mereka menyerukan penyelidikan independen atas insiden tersebut dan penuntutan terhadap individu-individu yang bertanggung jawab atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Negara-negara tetangga dan ASEAN juga didesak untuk meningkatkan tekanan diplomatik guna menghentikan kekerasan dan memfasilitasi dialog damai yang melibatkan semua pihak. Namun, sejauh ini, junta militer Myanmar tetap bergeming dan terus melanjutkan operasi militernya tanpa menghiraukan seruan global, memperpanjang penderitaan rakyatnya dan menggagalkan upaya stabilisasi regional.